Earth 2050
BARU

Pertanian

Pertanian Vertikal

Apakah Pertanian Vertikal Masa Depan Pangan?

Menanam makanan ke atas, bukan ke samping, menghemat ruang dan air, serta menjaga makanan tetap lokal. Kami menunjukkan bagaimana tanaman tumbuh tanpa tanah dengan hidroponik dan aeroponik. Tanaman itu diterangi LED dan dipandu otomatisasi. Kami melihat di mana lokasi perkotaan bisa unggul. Lalu kami membahas batasan saat ini: energi, pilihan tanaman, keterampilan, dan biaya tinggi, serta jalan yang bisa membantu, seperti memakai energi terbarukan dan panas limbah. Panen besar, jejak kecil, pilihan bagus untuk eksplorasi luar angkasa!

Unduh Panduan
DampakKecepatanBiayaKematanganteknologiAlam

2,4keseluruhan

Skor Solusi Ini

  • Dampak1 / 5Hanya bisa menanam sedikit jenis tanaman, dan lampunya butuh banyak listrik.
  • Kecepatan3 / 5Pertanian ini bisa dibangun cepat, tapi biayanya yang tinggi membatasi penerapan lebih luas.
  • Biaya1 / 5Salah satu cara termahal untuk menanam makanan.
  • Kematangan teknologi3 / 5Sudah beroperasi secara komersial, tapi terutama untuk selada dan herba.
  • Alam4 / 5Menghemat lahan dan air, tapi hanya sebersih sumber energinya.

Panduan

Ini transkrip bergambar dari film ini. Panduan ini saat ini hanya tersedia dalam bahasa Inggris - bahasa Anda segera menyusul.

Panduan 1/7Panduan 2/7Panduan 3/7Panduan 4/7Panduan 5/7Panduan 6/7Panduan 7/7

Kuis

Pertanyaan 1 dari 10

Kira-kira berapa bagian dari emisi gas rumah kaca global yang berasal dari pertanian?

Skor 0 / 10

Transkrip

Ada dua fakta yang mengkhawatirkan komunitas ilmiah: Pertama, populasi dunia akan mencapai hampir 10 miliar pada 2050 [1,2,3], dan kedua, Bumi kehabisan lahan pertanian dan air [4-11].

Faktanya, setiap tahun miliaran pohon ditebang untuk memberi ruang bagi pertanian [12-15]. Dan kalau itu belum cukup, pertanian menyumbang sekitar 20% emisi gas rumah kaca manusia [16-19]. Jadi, bagaimana kita bisa memberi makan populasi yang terus bertambah tanpa menghancurkan planet ini? Nah, mungkin ada caranya.

Ada teknik baru bernama pertanian vertikal, yang bisa memungkinkan manusia menanam lebih banyak makanan daripada yang pernah kamu bayangkan, semuanya dengan bantuan AI dan robot. Tapi sementara sebagian orang menganggap ini masa depan, yang lain merasa ini tidak akan benar-benar berhasil. Jadi mari kita timbang kelebihan dan kekurangan pertanian vertikal.

Hingga 12.000 tahun lalu, manusia belum punya permukiman. Mereka berjalan keliling Bumi, berburu, dan mengumpulkan apa pun yang bisa mereka temukan untuk bertahan hidup [20,21,22]. Lalu sesuatu berubah secara drastis: mereka menemukan pertanian [23,24]. Praktik ini berkembang pesat dan kini, lahan pertanian mencakup sekitar 12% dari seluruh daratan di Bumi [25-28].

Jadi apa masalahnya?

Nah, melanjutkan jalan ini tidak berkelanjutan. Selama berabad-abad, praktik pertanian yang tidak berkelanjutan telah menyebabkan kerusakan tanah yang meluas, ditambah deforestasi besar-besaran, urbanisasi, serta penyalahgunaan pupuk dan pestisida [29-34]… kamu tahu, krisis iklim itu? Semua hal ini mengancam akan menghancurkan ekosistem Bumi.

Selain itu, pertanian konvensional memakai 70% air tawar dunia [35-41] dan menghasilkan tingkat emisi CO2 yang tidak berkelanjutan [16-19,42].

Jadi bagaimana manusia bisa bertani lebih berkelanjutan di masa depan?

Sepanjang sejarah, teknologi memainkan peran penting dalam memenuhi kebutuhan populasi yang terus bertambah. Untungnya, beberapa Solusi berkelanjutan sedang dikembangkan, dan salah satu teknologi yang lebih ambisius adalah pertanian vertikal: sistem yang menanam tanaman di dalam ruangan, di fasilitas canggih dengan tanaman buah dan sayur ditumpuk vertikal, satu di atas yang lain, dalam kondisi lingkungan terlindungi yang selalu dipantau dan dikendalikan [43,44,45].

Pertanian vertikal juga tidak butuh tanah. Tanaman biasanya ditanam dalam air yang kaya nutrisi. Ini disebut hidroponik [46,47,48]. Atau tanaman ditanam di udara, dan ini disebut aeroponik [49-53]. Sistem ini bisa berperan penting dalam mengurangi kelangkaan lahan dan kerusakan tanah.

Jadi, bagaimana cara kerjanya?

Karena tidak ada sinar matahari di dalam ruangan, pertanian vertikal memakai lampu LED [54].

Pertanian vertikal juga memanfaatkan teknologi pintar yang canggih seperti sensor, AI, dan otomatisasi untuk meningkatkan efisiensi dengan mengendalikan secara tepat semua faktor yang mendukung pertumbuhan tanaman, seperti nutrisi, cahaya, suhu, dan kelembapan [54-59].

Jadi, tidak peduli kamu berada di mana di dunia, atau sedang musim apa, kini kamu bisa menanam tanaman di mana saja, kapan saja.

Pertanian vertikal sudah dipasang di tempat-tempat seperti bangunan terbengkalai [60,61,62], tempat parkir bawah tanah [63,64,65], bahkan kontainer pengiriman [66-70]. Ini memungkinkan manusia menanam makanan di lingkungan perkotaan seperti Tokyo dan Kairo [69-77].

Saat ini, sebagian besar makanan menempuh ribuan kilometer untuk sampai ke piring orang-orang, tapi menanamnya secara lokal bisa menghindari ratusan megaton emisi CO2 [78-81].

Untuk tanaman tertentu, pertanian vertikal bisa menghasilkan panen 10 hingga 100 kali lebih banyak daripada pertanian tradisional [82-85]: dengan pertanian tradisional, satu meter persegi lahan menghasilkan sekitar 9 selada dalam panen 4-bulan; bandingkan dengan pertanian vertikal yang bisa menghasilkan lebih dari 600! [85-88]

Dan yang paling enak, lingkungan bersih ini juga menurunkan risiko hama dan penyakit, mengurangi kebutuhan akan pestisida berbahaya, melindungi hasil panen, dan menghemat air yang berharga [45,55,85,89,90]. Faktanya, penggunaan air bisa dikurangi hingga 95% dengan menjaganya dalam siklus irigasi tertutup [85,90].

Tapi, pertanian vertikal memang punya kekurangan.

Pertama-tama, pertanian ini butuh banyak energi, jauh lebih banyak daripada pertanian tradisional, terutama karena penggunaan lampu buatan [48,91,92]. Dan jika energi ini berasal dari bahan bakar fosil, akan dihasilkan CO2 [93,94,95].

Kedua, meski pertanian vertikal cocok untuk tanaman seperti sayuran berdaun, herba, dan sayuran kecil, saat ini pertanian ini tidak cocok untuk tanaman besar yang butuh banyak ruang atau siklus tumbuh lebih lama [95-98].

Selain itu, pertanian ini bergantung pada orang-orang yang terlatih dengan keahlian baru. Semua faktor ini berarti dibutuhkan banyak investasi [95,98,99,100].

Jadi harus bagaimana?

Nah, para ahli di seluruh dunia sedang mencari cara untuk menjalankan pertanian vertikal dengan energi terbarukan, seperti tenaga surya atau angin, [100-111] serta mendaur ulang panas buangan dan CO2 [112-116].

Solusi harus ditemukan, karena pada 2050, sekitar 70% manusia akan tinggal di kota-kota yang akan semakin membesar [117-120]. Dalam skenario ini, pertanian vertikal bisa menjadi sekutu yang berharga.

Bagaimanapun, ribuan tahun inovasi pertanian sudah mengubah hidup manusia menjadi lebih baik [121,122,123].

Dan meski saat ini masih punya keterbatasan, pertanian vertikal berpotensi membentuk ulang pertanian sekali lagi. Percobaan NASA bahkan menunjukkan bahwa suatu hari nanti pertanian vertikal bisa memungkinkan manusia menanam makanan di stasiun luar angkasa atau bahkan di Mars [124,125].

Tapi sementara itu, kembali di Bumi, pertanian vertikal bisa menghadapi dua tantangan yang sangat penting: mengurangi CO2, dan menanam cukup makanan untuk semua orang!

Penasihat Ahli

Kami ingin mengucapkan terima kasih kepada

Prof. Emeritus Dickson Despommier

Universitas Columbia

Departemen Ilmu Kesehatan Lingkungan

Prof. Leo Marcelis

Wageningen University & Research

Ketua Kelompok Hortikultura dan Fisiologi Produk

Prof. Chungui Lu

Universitas Anglia Ruskin

Fakultas ilmu pertanian, hewan, dan lingkungan

Bacaan Lain

Sumber daya ini tidak berafiliasi. Semua tautan di sini berbahasa Inggris.

Sejarah Pertanian

Referensi

Semua tautan di sini berbahasa Inggris.

  1. [1] Populasi | United Nations (Ringkasan data: World Population Prospects 2024: Summary of Results)
  2. [2] WDI - Populasi dunia akan mencapai hampir 10 miliar pada 2050 | The World Bank
  3. [3] Cara memberi makan 10 miliar orang secara berkelanjutan pada 2050, dalam 21 grafik | World Resources Institute
  4. [4] Turning the Tide | Global Commission on the Economics of Water
  5. [5] Mengukur tekanan air tanah terbarukan dengan GRACE | Water Resources Research (Dalam: Is the world running out of fresh water? | BBC Future)
  6. [6] Climate Change 2022: Impacts Adaptation and Vulnerability - Bab 4: Air | IPCC (Dalam: The health effects of climate change, explained | News | Wellcome)
  7. [7] Satelit NASA mengungkap penurunan mendadak tingkat air tawar global | NASA Science
  8. [8] Penurunan terbaru secara global pada simpanan air cekungan endoreik | Nature Geoscience (Dalam: Are We Running Out of Water? | Earth.Org)
  9. [9] The State of the World’s Land and Water Resources for Food and Agriculture - Systems at breaking point | Synthesis Report 2021 | FAO
  10. [10] Kehilangan tanah: Model berkelanjutan untuk pertanian intensif | Grantham Centre Briefing Note | University of Sheffield (diarsipkan)
  11. [11] Hilangnya lahan subur dunia mengancam ‘semua yang kita makan, minum, hirup’, kata pembicara, saat Komite Kedua membahas pembangunan berkelanjutan | Meetings Coverage and Press Releases | United Nations
  12. [12] Pemetaan kepadatan pohon dalam skala global | Nature (Dalam: Deforestation and Forest Loss | Our World in Data) (lihat Catatan Referensi*)
  13. [13] Laju & Statistik Deforestasi Global menurut Negara | GFW (Dalam: Forest Pulse: The Latest on the World’s Forests | World Resources Institute Research) (lihat Catatan Referensi*)
  14. [14] Global Forest Resource Assessment 2020 | FAO (Dalam: Deforestation and Forest Loss | Our World in Data) (lihat Catatan Referensi*)
  15. [15] Penyebab deforestasi | Our World in Data (lihat Catatan Referensi*)
  16. [16] Mengurangi dampak lingkungan dari makanan lewat produsen dan konsumen | Science (Dalam: Food production is responsible for one-quarter of the world’s greenhouse gas emissions | Our World in Data) (lihat Catatan Referensi*)
  17. [17] Sistem pangan bertanggung jawab atas sepertiga emisi GRK antropogenik global | Nature Food (Dalam: How much of global greenhouse gas emissions come from food? | Our World in Data) (lihat Catatan Referensi*)
  18. [18] Pangsa pertanian dalam total emisi gas rumah kaca | Tren global, regional, dan nasional 1990-2017 | FAO (lihat Catatan Referensi*)
  19. [19] Emisi gas rumah kaca dari sistem agripangan | Tren global, regional, dan nasional, 2000-2022 | FAO (lihat Catatan Referensi*)
  20. [20] Perkembangan pertanian | Nat Geo
  21. [21] Budaya pemburu-peramu | National Geographic Education
  22. [22] Pemburu-peramu | Definisi, masyarakat, & fakta | Britannica
  23. [23] Kelahiran lambat pertanian | Science
  24. [24] Menggali asal-usul pertanian | PNAS
  25. [25] Luas pertanian global | World Atlas of Desertification | European Commission Joint Research Centre (lihat Catatan Referensi*)
  26. [26] Statistik dan indikator penggunaan lahan | FAO (lihat Catatan Referensi*)
  27. [27] Sebaran geografis lahan pertanian global pada tahun 2000 | Global Biogeochemical Cycles (lihat Catatan Referensi*)
  28. [28] Ketimpangan global dalam konsumsi pangan, kebutuhan lahan pertanian, dan efisiensi penggunaan lahan: Analisis dekomposisi | Global Environmental Change (lihat Catatan Referensi*)
  29. [29] Global Land Outlook - Edisi Pertama | UN Convention to Combat Desertification
  30. [30] Perubahan iklim: Degradasi lahan dan penggurunan | WHO
  31. [31] Mengukur degradasi tanah: Penyebab, dampak, solusi & pencegahan | EOS Data Analytics
  32. [32] Melihat kaitan pertanian dengan deforestasi | Earth Observatory | NASA
  33. [33] Survei Penginderaan Jauh FAO mengungkap hutan hujan tropis di bawah tekanan karena perluasan pertanian mendorong deforestasi global | FAO (Siaran pers: COP26: Agricultural expansion drives almost 90 percent of global deforestation)
  34. [34] Dampak penggunaan pestisida dalam pertanian: manfaat dan bahayanya | Interdisciplinary Toxicology
  35. [35] Air untuk pembangunan pertanian: Peluang dan kendala: International Journal of Water Resources Development
  36. [36] Kebutuhan air irigasi global: Variabilitas dan ketidakpastian dari kumpulan data pertanian dan iklim | Geophysical Research Letters
  37. [37] Penggunaan air tanah untuk irigasi - inventaris global | Hydrology and Earthy System Sciences
  38. [38] Water for Prosperity and Peace | UN World Water Development Report
  39. [39] Pengambilan air tawar tahunan, pertanian (% dari total pengambilan air tawar) | FAO AQUASTAT Data | World Bank Group
  40. [40] Statistik | UN World Water Development Report
  41. [41] Air | FAO
  42. [42] Emisi gas rumah kaca dari tanah pertanian: Tinjauan | Journal of Agriculture and Food Research
  43. [43] Pertanian vertikal | Deskripsi, sejarah, akuaponik, hidroponik, tanaman, kelebihan & kekurangan | Britannica
  44. [44] Pertanian vertikal: Mengapa menumpuk tanaman tinggi bisa jadi masa depan pertanian | BBC Science Focus Magazine
  45. [45] Pabrik tanaman di era Nexus air-pangan-energi: tinjauan bibliografis sistematis | Food Security (dikutip dalam [85])
  46. [46] Teknologi hidroponik | Aquaponics Food Production Systems
  47. [47] Hidroponik - Sebuah tinjauan | International Journal of Current Microbiology and Applied Sciences
  48. [48] Pertanian vertikal - Bukan lagi konsep futuristis | US Department of Agriculture
  49. [49] Aeroponik: Alat riset politropik di era baru pertanian | International Journal of Environment & Climate Change
  50. [50] Aeroponik untuk membudidayakan organisme, jaringan, dan sel | Biotechnology Advances
  51. [51] Teknologi budidaya tanaman modern dalam pertanian di lingkungan terkendali: tinjauan tentang aeroponik | Journal of Plant Interactions
  52. [52] Aeroponik- Langkah menuju pertanian berkelanjutan | International Journal of Advance Research, Ideas and Innovations in Technology
  53. [53] Aeroponik: Tinjauan-mengenai teknologi pertanian modern | Indian Farmer
  54. [54] LED untuk foton, fisiologi, dan makanan | Nature
  55. [55] Pertanian vertikal: Beralih dari modifikasi genetik ke modifikasi lingkungan | Trends in Plant Science
  56. [56] Kecerdasan pertanian dalam pertanian vertikal berkelanjutan | arXiv (Cornell University)
  57. [57] Pandangan pertanian vertikal untuk mendukung pertanian presisi menggunakan kecerdasan buatan: Sebuah tinjauan | Computers
  58. [58] Pertanian vertikal berbasis IoT Edge | Publikasi konferensi IEEE - WCONF
  59. [59] Kecambah cerdas: Sistem pengelolaan air cerdas berbasis IoT dengan logika fuzzy untuk pertanian vertikal | Publikasi konferensi IEEE - ICOSEC
  60. [60] Pertanian vertikal dan kebangkitan ruang kota terlantar | Green.org (lihat Catatan Referensi*)
  61. [61] Mengubah bangunan terlantar menjadi kebun vertikal | Green.org (lihat Catatan Referensi*)
  62. [62] Gedung perkantoran kosong diubah menjadi kebun vertikal | Smithsonian Magazine (lihat Catatan Referensi*)
  63. [63] La Caverne, kebun kota bawah tanah pertama di Paris | Sortiraparis.com (lihat Catatan Referensi*)
  64. [64] Pertanian kota di struktur parkir mobil bertingkat di pusat kota- potensi pemanfaatan kembali adaptif | Future Cities and Environment (lihat Catatan Referensi*)
  65. [65] Old MacDonald punya tempat parkir mobil? Kebun kota yang tumbuh di tempat tak terduga | Cities | The Guardian (lihat Catatan Referensi*)
  66. [66] Bisakah kebun kontainer merevolusi industri pertanian? | Vertical Farming Today (diarsipkan) (lihat Catatan Referensi*)
  67. [67] Pertanian vertikal | ATTRA Sustainable Agriculture | NTAC (lihat Catatan Referensi*)
  68. [68] Pertanian vertikal menggunakan teknologi informasi dan komunikasi | INFOSYS (lihat Catatan Referensi*)
  69. [69] Start-up Wageningen menghasilkan sayuran segar dalam kontainer pengiriman di Ukraina | Wageningen University & Research (lihat Catatan Referensi*)
  70. [70] CITYFARMS | Tulima Farms (Dalam: Farming Anywhere, Anytime: How Tulima Farms Plans to Revolutionize Egypt’s Agriculture | Egyptian Streets) (lihat Catatan Referensi*)
  71. [71] Sistem tanam hidroponik baru, tumbuh langsung di supermarket | Domus (mengutip A new hydroponic growing system, growing directly in the supermarket | Schaduf)
  72. [72] Future Farms (@futurefarms.eg) | Instagram
  73. [73] Toko Tokyo bertani secara vertikal di lantai ke-12 | VerticalFarm Daily
  74. [74] Square Roots mengumumkan perusahaan baru di Jepang | VerticalFarm Daily
  75. [75] Teknologi mendorong pertumbuhan pertanian vertikal di Jepang | Artikel | Fruitnet
  76. [76] 江戸前 ハーブ (@edomaeherb) | Instagram
  77. [77] Revolusi pertanian perkotaan di Jepang dengan teknologi vertikultur | Techno Agriculturae Stadium of Research (Unduh melalui YPIDATHU)
  78. [78] Globalisasi bioteknologi pertanian: dampak bagi kepatuhan regulasi, pengelolaan, dan keterlibatan pemangku kepentingan | Regulation of Agricultural Biotechnology: The United States and Canada (lihat Catatan Referensi*)
  79. [79] Jarak tempuh pangan global menyumbang hampir 20% dari total emisi sistem pangan | Nature Food (lihat Catatan Referensi*)
  80. [80] Produksi tanaman pangan lokal bisa memenuhi kebutuhan kurang dari sepertiga populasi | Nature Food (lihat Catatan Referensi*)
  81. [81] Makan sebagai pencinta lingkungan | C&EN Global Enterprise (lihat Catatan Referensi*)
  82. [82] Potensi hasil gandum di pertanian vertikal berlingkungan terkendali | Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America
  83. [83] Makin tinggi dan menjauh! Ekonomi pertanian vertikal | Journal of Agricultural Studies
  84. [84] Pertanian vertikal: produktivitas, dampak lingkungan, dan penggunaan sumber daya. Sebuah tinjauan | Agronomy for Sustainable Development
  85. [85] Bagaimana inovasi energi dalam pertanian vertikal di dalam ruangan bisa meningkatkan ketahanan pangan, keberlanjutan, dan keamanan pangan? | Advances in Food Security & Sustainability (lihat Catatan Referensi*)
  86. [86] Produksi selada daun di California | University of California Vegetable Research & Information Centre (lihat Catatan Referensi*)
  87. [87] Produksi selada iceberg di California | University of California Vegetable Research & Information Centre (lihat Catatan Referensi*)
  88. [88] Selada (Seri berkebun di rumah) | Division of Agriculture Research & Extension | University of Arkansas System | FSA Agriculture and Natural Resources (lihat Catatan Referensi*)
  89. [89] Pertanian vertikal terpadu berbasis pemanenan air | Journal of Agricultural Engineering
  90. [90] Pabrik tanaman versus rumah kaca: Perbandingan efisiensi penggunaan sumber daya | Agricultural Systems
  91. [91] Mewujudkan potensi lingkungan sistem pertanian vertikal lewat kemajuan fotobiologi tanaman | Biology
  92. [92] Hal yang mungkin belum kamu sadari tentang pertanian vertikal | Horticulturae
  93. [93] Pertanian vertikal - apakah ini masa depan pertanian? | Climate Champions | UNFCCC (diarsipkan)
  94. [94] Emisi karbon tertanam dari produksi selada di pertanian vertikal, hortikultura rumah kaca, dan pertanian lahan terbuka di Belanda | Journal of Cleaner Production
  95. [95] Sejauh apa pertanian vertikal bisa berkembang? | BBC Future
  96. [96] Melihat peluang untuk sayuran hijau berdaun dalam pertanian vertikal di dalam ruangan | Trends in Food Science & Technology
  97. [97] Pertanian vertikal budidaya menjanjikan untuk tanaman hortikultura | International Journal of Current Microbiology and Applied Sciences
  98. [98] Pertanian vertikal: solusi lokal untuk sayuran hijau, tetapi belum akan memberi makan dunia dalam waktu dekat | Sustainability in Numbers (mengutip [54])
  99. [99] Berapa biaya pertanian vertikal? | CambridgeHOK
  100. [100] Membangun alasan untuk pertanian vertikal | Intelligent Growth Solutions
  101. [101] Pertanian vertikal dengan fotovoltaik surya terintegrasi | Journal of Solar Energy Engineering
  102. [102] Menggunakan energi terbarukan dalam pertanian vertikal | Blog | Hydropolis
  103. [103] Analisis tekno-ekonomi-lingkungan tenaga surya/hibrida/penyimpanan untuk sistem pertanian vertikal: Studi kasus, Malaysia | Renewable Energy Focus
  104. [104] Mengurangi emisi dari pertanian vertikal | Octopus Energy
  105. [105] Ukuran & laporan pertumbuhan pasar pertanian vertikal Eropa hingga 2033 | Market Data Forecast
  106. [106] Singapura bisa mendekarbonisasi pertanian kota dengan memanfaatkan energi terbarukan, inovasi: Para ahli (Video) | CNA
  107. [107] Perspektif baru tentang pertanian vertikal meningkatkan efisiensi | Vattenfall
  108. [108] Tiongkok mengungkap pertanian vertikal ‘pertama yang ditenagai reaktor modular’ | VerticalFarm Daily
  109. [109] ‘Pertanian vertikal terbesar di dunia’ memasang sistem surya | Solar Power Portal
  110. [110] Pertanian vertikal bertenaga surya di Singapura | Planetary Care Grant Agency
  111. [111] Pertanian vertikal: Apakah berkelanjutan? | RSIS
  112. [112] Berbagi sumber daya antara pertanian vertikal dan lingkungan binaan | TUDelft
  113. [113] Pertanian vertikal: Masa depan baru untuk produksi pangan? | Farming Connect | Business Wales (diarsipkan)
  114. [114] Cara pertanian vertikal mengurangi dampak lingkungan | Avisomo
  115. [115] Memanfaatkan teknologi Penangkapan Udara Langsung (DAC) untuk pertanian dalam ruangan | Agritecture
  116. [116] Dampak pertanian vertikal pada konsentrasi karbon dioksida dalam ruangan dan konsumsi energi udara segar di gedung perkantoran | Building and Environment
  117. [117] 68% populasi dunia diproyeksikan tinggal di kawasan perkotaan pada 2050 | UN Department of Economic and Social Affairs
  118. [118] Gambaran umum pembangunan perkotaan | World Bank Group
  119. [119] Populasi perkotaan dunia - Infografis | Urbanet | GIZ
  120. [120] World Cities Report 2022 | UN Habitat
  121. [121] Ekonomi inovasi pertanian | Handbook of Agricultural Economics (lihat Catatan Referensi*)
  122. [122] Sejarah pertanian | Food System Primer | Center for a Livable Future | John Hopkins University (lihat Catatan Referensi*)
  123. [123] Sejarah inovasi dan pemanfaatannya dalam pertanian | Innovation and development in agricultural and food systems | AGRIS | FAO (diarsipkan) (lihat Catatan Referensi*)
  124. [124] Kontribusi NASA untuk pertanian vertikal | NASA Exploration & Research Technology | NASA Technical Reports
  125. [125] Minat NASA pada dukungan kehidupan bioregeneratif dan perjalanan menuju Mars | NASA Exploration Research and Technology Directorate | NASA Technical Reports

Catatan Referensi

12-15

Jumlah pohon ditebang untuk lahan pertanian

[12] “Lima belas miliar pohon ditebang setiap tahun” - (2015) Pemetaan kepadatan pohon dalam skala

global | Nature (seperti dikutip dalam Deforestation and Forest Loss | OurWorldinData)

14

“FAO PBB memperkirakan bahwa 10 juta hektare hutan ditebang setiap tahun” - (2020) Penilaian Sumber Daya Hutan Global (seperti dikutip dalam Deforestation and Forest Loss | OurWorldinData):

- Laju kehilangan hutan bersih sering disebut sekitar 5 juta hektare per tahun: “Antara 2010 dan 2020, kehilangan bersih hutan secara global adalah 4,7 juta hektare per tahun. Namun, laju deforestasi jauh lebih tinggi.”

15

“Setidaknya tiga perempat dari ini didorong oleh pertanian - pembukaan hutan untuk menanam tanaman pangan, beternak, dan menghasilkan produk seperti kertas” - Pendorong Deforestasi | OurWorldinData:

- Beberapa perkiraan dalam literatur membahas seberapa besar bagian deforestasi yang didorong oleh pertanian. Perbedaan dalam perkiraan ini sering dijelaskan oleh perbedaan cara memandang deforestasi dibandingkan degradasi hutan. Pertanian menyumbang 70-80% deforestasi tropis - perubahan permanen lahan berhutan menjadi penggunaan lahan lain. Bagian ini sedikit lebih rendah jika degradasi ikut dihitung yaitu hilangnya hutan sementara atau hilangnya kualitas hutan secara permanen. Noriko Hosonuma et al. (2012) memperkirakan bahwa 73% deforestasi tropis didorong oleh pertanian.

Lihat di sini dan di sini untuk info lebih lanjut

16-19

Persentase emisi gas rumah kaca global dari pertanian

(Di sini, pertanian berarti pertanian darat untuk produksi pangan, jadi tidak termasuk perikanan, akuakultur, dan produk nonpangan)

16

menyatakan produksi dan konsumsi pangan menyumbang 26% emisi GRK global, yang dirinci lebih lanjut sebagai berikut: 24% penggunaan lahan (8% untuk makanan manusia, 16% untuk ternak); 27% produksi tanaman; 30% peternakan & budi daya ikan (+1% perikanan liar); 18% rantai pasok. Ini setara dengan sekitar 20% emisi GRK global jika emisi rantai pasok setelah pertanian dan perikanan tidak dihitung.

17

Dari abstrak asli: “Pada 2015, emisi sistem pangan mencapai 18 Gt CO2 ekuivalen per tahun secara global, atau 34% dari total emisi GRK. Kontribusi terbesar berasal dari kegiatan pertanian dan penggunaan lahan/perubahan penggunaan lahan (71%), sementara sisanya berasal dari kegiatan rantai pasok: ritel, transportasi, konsumsi, produksi bahan bakar, pengelolaan limbah, proses industri, dan kemasan”.

OurWorldinData menjelaskan perbedaan antara perkiraan dari [16] & [17]: [17] mengaitkan seluruh deforestasi global (dan CO2 yang terkait) dengan pertanian, sambil mengakui bahwa sebenarnya hanya 80% deforestasi didorong oleh pertanian (sisanya adalah perluasan kota). Ini menurunkan perkiraan mereka menjadi lebih dekat ke 23,5% emisi GRK sebelum rantai pasok, saat perluasan kota tidak dihitung tetapi emisi terkait perikanan dan beberapa produk non-pangan dimasukkan. [16] memberikan perkiraan terpisah untuk produk pertanian non-pangan, yang jika digabungkan akan menaikkan total mereka dari 26 menjadi 33%.

18

Pada 2017, kontribusi persentase pertanian terhadap emisi CO2eq dunia dari seluruh aktivitas manusia adalah 20%, setara dengan 11,1 Gt CO2eq yr-1. Ini mencakup 6,1 Gt CO2eq yr-1 (11%) dari kegiatan budidaya tanaman dan ternak serta 5,0 Gt CO2eq yr-1 (9%) dari penggunaan lahan pertanian, terutama akibat deforestasi dan kerusakan lahan gambut.

19

Sistem pangan pertanian menyumbang 29,7% dari 53,5 Gt CO2eq yang dilepas pada 2022. Pertanian dan perubahan penggunaan lahan terkait masing-masing menyumbang 48% dan 19% dari angka ini, totalnya 19,9% dari emisi GRK global.

25-28

Total lahan pertanian global (sebagai persentase dari seluruh daratan di Bumi)

26

2% dari seluruh daratan di Bumi - tepatnya lahan tanaman pangan, dari seluruh lahan pertanian (37%) (2021).

25

mencakup 14% dari seluruh daratan bebas es di Bumi (2014), sedangkan [27] mencakup 12% dari seluruh daratan bebas es di Bumi (2008) - mungkin sudah tidak terbaru.

28

mengutip data dari 2007, 12% dari seluruh daratan tidak termasuk Greenland dan Antarktika.

60-70

Bisnis pertanian vertikal - yang beroperasi saat ini (2025) versus kebangkrutan baru-baru ini

Perlu diakui bahwa beberapa perusahaan dan usaha pertanian vertikal telah bangkrut dalam beberapa tahun terakhir, dan belum diketahui bagaimana nasib yang disebut di sini dalam beberapa tahun ke depan. Berbagai ulasan telah menunjukkan alasan utama kegagalan ini, seperti mencoba berkembang terlalu cepat atau memakai dan memamerkan teknologi canggih berbiaya tinggi sebelum membangun kestabilan operasional dan kelayakan ekonomi yang mendasar, sehingga inovasi lebih diprioritaskan daripada dasar-dasar pertanian dan keuangan.

Tantangan yang umum meliputi kebutuhan energi yang tinggi, pilihan tanaman yang terbatas, hasil panen yang terlalu dibesar-besarkan, dan strategi bisnis yang belum matang. Banyak pertanian ini terlalu fokus pada kecanggihan teknologi hingga mengorbankan kesederhanaan, efisiensi, dan kecocokan dengan pasar.

Namun, ditekankan bahwa kegagalan ini tidak boleh dianggap sebagai bukti bahwa pertanian vertikal secara keseluruhan tidak layak. Sebaliknya, ini adalah hambatan di tahap awal dalam bidang yang masih berkembang. Pertanian vertikal tetap menjadi alat yang menjanjikan untuk meningkatkan ketahanan terhadap iklim dan ketahanan pangan, terutama di lingkungan perkotaan dan wilayah yang menghadapi keterbatasan lahan atau air. Pelajaran dari kesalahan awal memberi kesempatan untuk belajar dan wawasan berharga guna memandu pendekatan yang lebih realistis dan berkelanjutan dalam pengembangan di masa depan.

Lihat Video Lainnya ‘Pelajaran yang bisa dipetik’ untuk contoh ulasan.

78-81

Pengurangan emisi dari penghindaran jarak tempuh makanan

Studi global terbaru memperkirakan bahwa jarak tempuh pangan menyumbang sekitar 19% dari total emisi sistem pangan, atau kira-kira 3 Gt CO₂eq per tahun [79]. Emisi transportasi sangat tinggi terutama untuk barang yang mudah rusak dan sering diimpor seperti buah dan sayur, karena emisi pengangkutannya bahkan bisa melebihi emisi produksinya.

Meski studi-studi sebelumnya yang berfokus pada AS [81] menemukan bahwa transportasi hanya menyumbang 11% emisi terkait pangan (dengan sebagian besar emisi berasal dari produksi), penilaian global yang lebih baru menunjukkan bahwa perdagangan internasional berperan lebih besar daripada yang sebelumnya diyakini, terutama di negara kaya yang banyak mengimpor.

Namun, beralih sepenuhnya ke sistem pangan lokal tidak bisa dilakukan di mana-mana: hanya 11-28% populasi dunia yang bisa memenuhi kebutuhan akan tanaman tertentu dari sumber dalam radius 100 km, sementara lebih dari seperempat bergantung pada pangan yang harus diangkut lebih dari 1.000 km [80]. Meski begitu, ini setara dengan volume besar emisi yang sebenarnya bisa dihindari. Walau perdagangan global tetap penting untuk ketahanan pangan, terutama di wilayah yang kurang mandiri, menambah porsi pangan lokal - menanam lebih dekat ke tempat pangan dikonsumsi, terutama di negara kaya - bisa menghindari ratusan megaton CO₂ dan membuat sistem pangan lebih tangguh.

85-88

Perbandingan antara pertanian tradisional dan vertikal untuk selada

Perkiraan kepadatan dan frekuensi panen selada dalam budidaya lahan tradisional didasarkan pada panduan agronomi (rekomendasi rata-rata jarak tanam di lahan) untuk jenis selada umum (selada daun, butterhead, dan romaine):

Jarak antarbaris biasanya berkisar antara 40-80 inci per bedengan, dengan 2-6 garis benih, sehingga menghasilkan rata-rata jarak antarbaris sekitar 37-50 cm.

Jarak antartanaman dalam baris bervariasi menurut varietas, mulai dari 23-30 cm untuk kepala selada ukuran penuh hingga 13-15 cm untuk jantung romaine. Konfigurasi ini menghasilkan kepadatan sekitar 6,9-9,7 tanaman/m² untuk jenis selada standar dan 14-19,6 tanaman/m² untuk jantung romaine.

Selada biasanya dipanen setiap 3,5-4 bulan, tergantung iklim dan varietas, dan tidak memungkinkan penumpukan atau penanaman ulang yang sering. Namun, panen tidak konsisten sepanjang tahun - terkadang waktu tumbuhnya hanya ~2-2,5 bulan dalam kondisi hangat (65-80 hari jika ditanam pada musim panas, hingga 130 hari jika ditanam pada musim dingin/awal musim semi).

Kami memilih ~9 tanaman per meter persegi per 4 bulan sebagai patokan konservatif di kisaran tengah untuk sistem pertanian tradisional. Sebaliknya, sistem pertanian vertikal dapat mencapai produktivitas yang jauh lebih tinggi lewat penumpukan vertikal (misalnya 10 tingkat atau lebih) dan pergantian tanaman yang lebih cepat (misalnya siklus 18-30 hari), sehingga memungkinkan hasil 600+ tanaman/m² selama periode 4 bulan yang sebanding.

Skala hasil ini umumnya didukung oleh angka lain yang dikutip dalam literatur ilmiah [82-85] (klaim tambahan dari industri dapat ditemukan secara online). Jin et al. (2022)A melaporkan bahwa setiap lapisan selada yang ditanam secara vertikal dapat menghasilkan panen tahunan 700 kg per m2 di bawah pengaturan cahaya optimal (beberapa ratus kepala per m2 selama beberapa bulan, tergantung siklus tanaman dan ukuran kepala). Sementara itu, pendekatan baru yang dijelaskan oleh Ptak, Wasieńko & Makula (2024)B mencapai hasil yang dilaporkan setara dengan 597 kepala per m3 dalam sistem pertanian vertikal berputar. Selain penggunaan ruang yang efisien, contoh-contoh ini menyoroti peluang pertanian vertikal untuk meningkatkan hasil lebih lanjut lewat efisiensi penggunaan cahaya yang lebih baik. Cahaya terus-menerus terbukti mendorong fotosintesis yang nyaris konstan, tetapi harus diimbangi dengan kebutuhan energi yang meningkat serta risiko fotoinhibisi, stres panas, dan terganggunya proses sirkadian pada tanamanA. Sebaliknya, pengaturan cahaya/gelap multi-ruang memungkinkan setiap lapisan tanaman menerima cahaya harian yang cukup sambil menghemat sumber daya serta mengurangi biaya operasional dan tekanan pada tanaman dan peralatan. Pendekatan seperti ini menjanjikan untuk mengurangi kebutuhan energi sambil mempertahankan keunggulan hasil dari pertanian vertikal.

121-123

Manfaat pertanian bagi umat manusia

Meski ‘perkembangan pertanian telah membuat hidup manusia lebih baik’ - memungkinkan pertumbuhan penduduk, surplus pangan, dan kemajuan teknologi - kita juga perlu mengakui dampak kesehatan dan sosial yang lebih luas dari peradaban menetap yang muncul setelahnya. Ini termasuk berkurangnya keragaman makanan dibanding pola makan para pencari makan, meningkatnya penularan penyakit menular akibat kepadatan penduduk yang lebih tinggi dan kedekatan dengan hewan ternak, stratifikasi sosial, serta risiko konflik terorganisir yang lebih besar. Dampak-dampak ini bukan bawaan dari pertanian itu sendiri, melainkan dari struktur sosial yang muncul bersama permukiman permanen.

Apakah Anda pendana, ilmuwan, pendidik, atau pembuat kebijakan?

Tertarik mendukung atau bekerja sama dengan Earth 2050? Hubungi kami.

info@earth2050.com